Endometriosis Dapat Picu Infertilitas

•Juni 29, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Jakarta – Belakangan ini istilah Endometriosis menjadi sangat populer. Penyakit yang hanya diderita kaum perempuan ini setiap tahunnya menunjukkan kenaikan jumlah kasus walaupun data pastinya belum dapat diketahui. Kaum perempuan tampaknya perlu mewaspadai penyakit yang seringkali ditandai dengan nyeri hebat pada saat haid ini. Pasalnya, selain dapat mengurangi potensi fertilitas atau kesuburan, penyakit ini seringkali sangat sulit terdeteksi.

Menurut MedicaStore, endometriosis adalah penyakit yang dipicu pertumbuhan jaringan endometrium di luar rongga rahim. Endometrium adalah jaringan yang membatasi bagian dalam rahim. Dalam siklus menstruasi, ketebalan endometrium akan bertambah sebagai persiapan terjadinya kehamilan. Bila kehamilan tidak terjadi, maka lapisan ini akan terlepas dan dikeluarkan sebagai menstruasi.

Kelainan ini diduga diturunkan secara genetis dan ditemukan enam kali lebih sering pada wanita yang mempunyai ibu atau saudara perempuan dengan keluhan ini dibandingkan yang tidak. Endometriosis dapat terjadi kapan saja sepanjang usia reproduksi wanita dan menjadi masalah besar karena bisa mengakibatkan terjadinya infertilitas.

Penyebab
Penyebab endometriosis secara pasti belum diketahui, tapi ada beberapa teori yang diajukan selama ini, yaitu :

  • Menstruasi retrograd, di mana sebagian aliran darah menstruasi dari rahim keluar ke rongga perut melalui tuba
  • Gangguan sistem kekebalan yang memungkinkan sel-sel endometrium melekat dan berkembang
  • Kelainan genetis
  • Jaringan endometrium menyebar melalui sistem kelenjar getah bening dan aliran darah
  • Faktor lingkungan, misalnya paparan terhadap dioxin

Endometriosis bisa menyebabkan INFERTILITAS karena berbagai keadaan berikut :

  • Parameter Hormonal Dibandingkan dengan siklus normal, fase folikular penderita endometriosis lebih singkat, kadar estradiol lebih rendah, dan nilai puncak produksi LH (LH surge) berkurang. Folikel yang terbentuk pada saat LH surge cenderung berukuran lebih kecil.
  • Luteinized Unruptured Follicle Syndrome (LUF) LUF adalah kegagalan pelepasan sel telur dari ovarium.
  • Pengaruh Peritoneal Pada penderita endometriosis ditemukan peningkatan jumlah dan aktivitas cairan peritoneum dan makrofag peritoneum.
  • Sistem Kekebalan Endometriosis mempengaruhi sistem kekebalan dan secara langsung bisa mengakibatkan infertilitas.
  • Produksi Prostaglandin Prostaglandin diduga dihasilkan oleh sel-sel endometriosis muda, menyebabkan spasme atau
  • kontraksi otot. Akibat pengaruh prostaglandin, tuba menjadi kaku dan tidak dapat mengambil sel telur yang dihasilkan ovarium serta terjadi penolakan perlekatan janin dalam rahim. Selain itu gerakan sperma juga berkurang sehingga mempengaruhi kemampuannya menembus sel telur.

Gejala
Endometriosis bisa timbul di berbagai tempat dan mempengaruhi gejala yang ditimbulkan. Tempat yang paling sering ditemukan adalah di belakang rahim, pada jaringan antara rektum dan vagina dan permukaan rektum. Tapi kadang-kadang ditemukan juga di tuba, ovarium, otot-otot pengikat rahim, kandung kencing dan dinding samping panggul.

Mengikuti siklus menstruasi, setiap bulan jaringan di luar rahim ini mengalami penebalan dan perdarahan. Perdarahan ini tidak mempunyai saluran keluar seperti darah menstruasi, tapi terkumpul dalam rongga panggul dan menimbulkan nyeri. Jaringan endometriosis dalam ovarium menyebabkan terbentuknya kista coklat. Akibat peradangan jaringan secara kronis, terbentuk jaringan parut dan perlengketan organ-organ reproduksi. Sel telur sendiri terjerat dalam jaringan parut yang tebal sehingga tidak dapat dilepaskan. Sepertiga penderita endometriosis tidak mempunyai gejala apapun selain infertilitas.

Penderita yang lain mengalami berbagai gejala dengan gejala utama nyeri. Beratnya endometriosis tidak berhubungan dengan derajat nyeri, bisa jadi endometriosis yang berat hanya menimbulkan nyeri ringan.

Gejala yang sering timbul :

  • Nyeri, hebatnya nyeri ditentukan oleh lokasi endometriosis
    • nyeri pada saat menstruasi
    • nyeri selama dan sesudah hubungan intim
    • nyeri ovulasi
      nyeri pada pemeriksaan dalam oleh dokter
  • Perdarahan
    • perdarahan banyak dan lama pada saat menstruasi
    • spotting sebelum menstruasi
    • menstruasi yang tidak teratur
    • darah menstruasi yang berwarna gelap yang keluar sebelum menstruasi atau di akhir menstruasi
  • Keluhan buang air besar dan kecil
    • nyeri pada saat buang air besar
    • darah pada feces
    • diare, konstipasi dan kolik
    • nyeri sebelum, pada saat dan sesudah buang air kecil

Diagnosa
Seorang wanita dengan gejala yang khas atau infertilitas yang tidak bisa dijelaskan biasanya diduga menderita endometriosis. Sebagai tambahan pemeriksaan laboratorium tertentu bisa membantu seperti kadar Ca – 125 dalam darah dan aktivitas endometrial aromatase. Tapi alat diagnosa yang paling dapat dipercaya adalah dengan laparoskopi, yang dilakukan dengan memasukkan alat laparoskop melalui sayatan kecil di bawah pusar. Dengan alat ini dokter dapat melihat organ-organ panggul, kista dan jaringan endometriosis secara langsung.

Pengobatan
Pengobatan yang diberikan tergantung pada gejala, rencana mempunyai anak, usia dan luasnya daerah yang terkena. Pengelolaan endometriosis dengan obat-obatan tidak menyembuhkan, endeometriosis akan kambuh setelah pengobatan dihentikan. Pada wanita dengan endometriosis ringan sampai berat, terutama dengan kasus infertilitas, maka diperlukan pembedahan untuk membuang sebanyak mungkin jaringan endometriosis dan mengembalikan fungsi reproduksi.

  1. Pengobatan Hormonal
    Pengobatan hormonal dimaksudkan untuk menghentikan ovulasi, sehingga jaringan endometriosis akan mengalami regresi dan mati.
    Obat-obatan ini bersifat pseudo-pregnancy atau pseudo-menopause. Yang digunakan adalah :

    • Derivat testosteron
      • Danazol
      • Gestrinone (Dimetriose)
    • Progestogen
      • Medroxyprogesterone (Provera)
      • Norethisterone (Primolut)
      • Dydrogesterone (Duphaston) ·
    • GnRH (Gonadotropin-Releasing Hormon) analog
      • Leuprorelin (Prostap)
      • Goserelin (Zoladex)
      • Nafarelin (Synarel)
      • Buserelin (Suprecur)
    • Pil kontrasepsi kombinasi

Semua pengobatan hormonal ini melalui uji klinis terbukti mempunyai efektivitas yang kira-kira sama. Efek samping obat-obatan ini berbeda dari satu orang ke orang yang lain.

Efek Samping Pengobatan HormonalProgestogen
Perdarahan di antara menstruasi, mood yang berubah-ubah, depresi, vaginitis atropik

Danazol
Penambahan berat, jerawat, suara menjadi lebih berat, pertumbuhan rambut, aliran panas, kekeringan vagina, pembengkakan pergelangan kaki, kram otot, perdarahan diantara menstruasi, ukuran payudara mengecil, mood berubah-ubah, gangguan fungsi hati, gangguan metabolisme lemak, carpal tunnel syndrome.

GnRH analog
Aliran panas, kekeringan vagina, kehilangan kalsium dari tulang, mood berubah-ubah.

Pil Kontrasepsi
Pembengkakan perut, pembengkakan payudara, peningkatan kombinasi nafsu makan,pembengkakan pergelangan kaki, mual, perdarahan di antara menstruasi, trombosis vena dalam.

  1. Pembedahan
    Pembedahan bisa dilakukan secara laparoskopi atau laparatomi, tergantung luasnya invasi endometriosis. Pada penderita dengan endometriosis yang hebat pengobatan hormonal disertai dengan pembedahan. Seringkali sebelum pembedahan diberi pengobatan untuk mengurangi jumlah dan ukuran jaringan endometriosis. Pada saat pembedahan semua jaringan endometriosis yang terlihat dan dapat dijangkau harus dihilangkan, dengan sayatan atau pun pembakaran oleh sinar laser. Setelah pembedahan diberikan pengobatan hormon untuk mengurangi peradangan dan membersihkan jaringan endometriosis yang tersisa.
  2. Pembedahan Radikal
    Pembedahan dilakukan dengan mengangkat rahim dan ovarium di samping membersihkan jaringan endometriosisnya. Hal ini hanya dilakukan pada wanita dengan endometriosis hebat yang tidak mengalami perbaikan dengan pengobatan lain dan tidak lagi mengharapkan kehamilan. Setelah dilakukan pembedahan diberikan terapi pengganti estrogen, karena pengangkatan rahim dan ovarium menimbulkan akibat yang sama dengan menopause. Terapi pengganti ini diberikan 4-6 bulan setelah pembedahan agar semua jaringan endometriosis yang tersisa sudah habis dan tidak terbentuk kembali di bawah pengaruh estrogen.

KEHAMILAN SETELAH PENGOBATAN
Endometriosis mengakibatkan infertilitas dengan banyak mekanisme yaitu gangguan ovulasi, perlengketan jaringan, sumbatan tuba, kehamilan ektopik dan sebab lain yang tidak diketahui. Keberhasilan kehamilan setelah pengobatan dengan pembedahan dan terapi hormon berkisar antara 40 – 70 % tergantung beratnya endometriosis.

Mengupayakan kehamilan setelah pengobatan endometriosis dilakukan dengan :

  1. Menunggu
  2. Induksi ovulasi dan inseminasi intra uterine
  3. In vitro fertilization (Bayi tabung)

Jadi, mulai sekarang jangan ragu-ragu pergi berkonsultasi ke dokter ahli jika anda mengalami gejala-gejala penyakit ini. Walaupun banyak Rumah Sakit (RS) dan klinik telah menyediakan fasilitas pembedahan. Namun, bukankah lebih baik mendeteksi sedini mungkin dari pada harus dioperasi?

Persalinan Prematur

•Juni 29, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar
Apa itu Persalinan Prematur ?
Oleh Dr.suririnah
Sabtu, 25-Juni-2005, 08:39:59 2513 klik Send this story to a friend Printable Version
Persalinan atau kelahiran prematur, apa artinya? apa penyebabnya dan apa yang dapat dilakukan?—dapatkan semua informasi persalinan prematur ini selengkapnya–
Apakah itu persalinan prematur?Persalinan prematur adalah suatu proses kelahiran bayi sebelum usia kehamilan 37 minggu atau sebelum 3 minggu dari waktu perkiraan persalinan.

Separuh dari wanita hamil yang mengalami kelahiran prematur terjadi tanpa alasan atau sebab yang tidak diketahui.

Dan ada beberapa hal yang dapat mempertinggi resiko terjadinya kelahiran prematur ini , antara lain:

-Infeksi tertentu dari rahim, mulut rahim atau saluran kencing.

-Pecahya kantung amnion ( cairan ketuban).

-Lemahnya servik (mulut-rahim).

-Penyakit kronik termasuk tekanan darah tinggi, diabetes (kencing manis), penyakit ginjal dan thyroid (gondok).

-Abnormal rahim termasuk bentuk dll.

-Riwayat kelahiran prematur sebelumnya. Wanita dengan riwayat kelahiran prematur sebelumnya akan mempunyai kemungkinan yang lebih tinggi untuk kelahiran prematur lagi.

Tetapi banyak juga wanita, dengan riwayat kelahiran prematur hanya terjadi sekali saja dan berikutnya normal.

-Pemakaian substasi seperti perokok, peminum alkohol, atau pemakai obat kokain, heroin.

-Usia ibu saat hamil kurang dari 18 tahun atau lebih dari 40 tahun.

-Kurang gizi. Wanita dengan gizi yang kurang atau anemia biasanya akan menyebabkan kelahiran prematur.

-Kondisi lainnya seperti janin dengan kelainan kongenital atau produksi cairan amnion berlebihan dapat merangsang ke persalinan yang lebih awal.

Apa yang dapat dilakukan ?

– Lakukan pemeriksaan ANC (antenatalcare) selama kehamilan anda secara teratur, untuk dapat memonitor kesehatan bayi dan ibu.

-Selalu persiapkan nomor telpon dokter anda atau RS untuk dapat bertanya bila anda memerlukannya.

-Cepat hubungi dokter anda atau RS ——Bila anda mengalami tanda-tanda seperti akan melahirkan lebih awal, seperti : Kontraksi perut atau rasa kram; pendarahan vagina ; spotting ; Keluar cairan ketuban; Rasa sakit seperti menekan pada perut bawah; ataupun Sakit pinggang bagian bawah yang terus menerus: kontraksi perut 5-6 kali /jam. .

Pada beberapa kasus , dimana sebelum keluarnya cairan ketuban maka dengan pengobatan yang sesuai akan dapat mempertahankan kehamilan sampai bayi siap untuk hidup diluar atau cukup bulan.

© Dr. Suririnah –www.infoibu.com

Emboli Air Ketuban

•Juni 29, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar
Jangan anggap remeh. Dampak yang ringan biasanya hanya sebatas sesak napas, tapi yang berat dapat mengakibatkan kematian ibu. Emboli air ketuban (EAK), menurut dr. Irsjad Bustaman, SpOG, adalah masuknya cairan ketuban beserta komponennya ke dalam sirkulasi darah ibu. Yang dimaksud komponen di sini ialah unsur-unsur yang terdapat di air ketuban seperti lapisan kulit janin yang terlepas, rambut janin, lapisan lemak janin, dan musin/cairan kental. Umumnya EAK terjadi pada tindakan aborsi. Terutama jika dilakukan setelah usia kehamilan 12 minggu. Bisa juga saat amniosentesis (tindakan diagnostik dengan cara mengambil sampel air ketuban melalui dinding perut). Ibu hamil yang mengalami trauma/benturan berat juga berpeluang terancam EAK. Namun kasus EAK yang paling sering terjadi, lanjut Irsjad, justru saat persalinan atau beberapa saat setelah ibu melahirkan (postpartum). Baik persalinan pervaginam maupun sesar,tak ada yang bisa aman 100 persen dari risiko EAK. “Sebab, sewaktu proses persalinan normal maupun sesar, banyak vena yang terbuka yang memungkinkan air ketuban masuk ke dalam sirkulasi darah sekaligus menyumbat pembuluh darah balik itu,” ujar ginekolog lulusan FKUI yang antara lain berpraktek di RS Duren Sawit Jakarta.Secara sederhana, lanjutnya, EAK bisa dijelaskan sebagai berikut, “Saat persalinan, selaput ketuban pecah dan pembuluh darah ibu (terutama vena) terbuka. Akibat tekanan yang tinggi, antara lain karena rasa mulas yang luar biasa, air ketuban beserta komponennya berkemungkinan masuk ke dalam sirkulasi darah. Pada giliran berikutnya, air ketuban tadi dapat menyumbat pembuluh darah di paru-paru ibu.” Nah, jika sumbatan di paru-paru meluas, lama kelamaan bisa menyumbat aliran darah ke jantung. Akibatnya, timbul dua gangguan sekaligus, yaitu pada jantung dan paru-paru.

Kondisi tersebut bisa diperberat dengan terjadinya gangguan pembekuan darah. Adanya penyumbatan pada vena, lanjut Irsjad, secara otomatis akan mendorong tubuh mengeluarkan zat-zat antibeku darah untuk membuka sumbatan tersebut. Jika didiamkan, zat antibeku darah akan habis. Padahal, habisnya zat penting ini bisa berujung pada pendarahan di jalan lahir atau di bagian tubuh lainnya. Inilah yang disebut dengan DIC/disseminated intravascular coagulation atau gangguan pembekuan darah. “Jika tidak mendapat pertolongan segera, ibu akan mengalami kejang-kejang karena otaknya kekurangan oksigen. Bahkan bisa berakibat kematian,” ujar Irsjad.

SULIT DICEGAH

Kendati begitu, tuturnya, tak selamanya EAK berujung maut mengingat kasusnya mengenal gradasi berat-ringan yang ditentukan kondisi sumbatan pada vena. Sumbatan yang ringan biasanya hanya akan membuat ibu mengalami sesak napas sesaat. Namun EAK yang berat, seperti yang menyumbat paru-paru dan jantung serta membuat gangguan pembekuan darah, umumnya akan mengakibatkan kematian pada ibu.

Yang memprihatinkan, proses EAK bisa berlangsung sedemikian cepat. Tak heran kalau dalam waktu sekitar sejam sesudah melahirkan, nyawa ibu yang mengalami EAK tak lagi bisa tertolong. Apalagi EAK boleh dibilang muncul secara tiba-tiba tanpa bisa diduga sebelumnya dan prosesnya pun berlangsung begitu cepat. Dapat dimengerti jika angka kematian ibu bersalin dengan kasus EAK masih cukup tinggi, sekitar 86 persen.

Sementara terapi yang bisa dilakukan untuk menangani EAK, di antaranya terapi supportive/sesuai dengan gejala yang timbul. Jika gejala yang ditemukan berupa sesak napas, ibu akan diberi oksigen atau respirator. Dengan bantuan ini, andai sumbatan yang terjadi hanya sedikit, dalam beberapa waktu gejala sesak napas akan segera berlalu. Namun bila gangguannya berupa pembekuan darah atau ibu mengalami perdarahan hebat, tak ada lain yang bisa dilakukan kecuali transfusi darah.

Sayangnya, kejadian EAK sulit dicegah karena sama sekali tak bisa diprediksi. Diagnosis pasti hanya dapat dilakukan dengan otopsi. Artinya, setelah ibu meninggal, baru bisa terlihat di mana komponen-komponen air ketuban tersebar di pembuluh darah paru. Bahkan pada beberapa kasus, ditemukan air ketuban di dahak ibu yang mungkin disebabkan ekstravasasi, yakni keluarnya cairan ketuban dari pembuluh darah ke dalam gelembung paru/alveoli. “Biasanya, kalau paru-paru sudah tersumbat, ibu akan terbatuk-batuk dan mengeluarkan dahak yang mengadung air ketuban yang disertai rambut, lemak, atau kulit bayinya.”

Dengan demikian, yang bisa dilakukan adalah diagnosis klinis. Karena secara garis besar air ketuban menyerbu pembuluh darah paru-paru, maka amat penting untuk mengamati gejala klinis si ibu. Apakah ia mengalami sesak napas, wajah kebiruan, terjadi gangguan sirkulasi jantung, tensi darah mendadak turun, bahkan berhenti, dan atau adanya gangguan perdarahan.

JARANG TERJADI

Risiko EAK, lanjut Irsjad, tak bisa diantisipasi jauh-jauh hari karena emboli paling sering terjadi saat persalinan. Dengan kata lain, perjalanan kehamilan dari bulan ke bulan yang lancar-lancar saja, bukan jaminan ibu aman dari ancaman EAK. Sementara bila di persalinan sebelumnya ibu mengalami EAK, belum tentu juga kehamilan selanjutnya akan mengalami kasus serupa. Begitu juga sebaliknya.

Menurut Irsjad, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kejadian EAK. Pertama, his/kontraksi persalinan berlebih, yang umumnya terjadi pada penggunaan obat-obatan perangsang persalinan yang tidak terkontrol. Kedua, adanya bakteri dalam air ketuban. Sedangkan faktor ketiga adalah mekonium atau tinja janin terdapat dalam air ketuban yang merupakan salah satu pertanda kondisi gawat janin di mana janin dalam keadaan kekurangan oksigen. Akibatnya, terjadi peningkatan gerakan usus ibu yang membuat janin terberak-berak. Air ketuban yang penuh dengan kotoran bayi inilah yang acap kali menimbulkan kefatalan pada kasus-kasus EAK. “Tapi para ibu hamil tak perlu khawatir. Toh, kasus ini jarang terjadi. Angka kejadian EAK di Asia Tenggara hanya 1 di antara 27.000 persalinan. Yang penting, persiapkan selalu kehamilan yang sehat dan jangan lupa berdoa pada Yang Maha Kuasa.”

Lalu bagaimana dampak EAK pada bayi? Menurut Irsjad, sama sekali tak ada. Pasalnya, EAK umumnya terjadi sesaat seusai proses persalinan. Jadi, bayi tidak akan mengalami gangguan apa pun.  

Sekilas Tentang Air KetubanAir ketuban, jelas Irsjad, merupakan semacam cairan yang memenuhi seluruh rahim dan memiliki berbagai fungsi untuk menjaga janin. Di antaranya, memungkinkan janin dapat bergerak dan tumbuh bebas ke segala arah, melindungi terhadap benturan dari luar, barier terhadap kuman dari luar tubuh ibu, dan menjaga kestabilan suhu tubuh janin. Ia juga membantu proses persalinan dengan membuka jalan lahir saat persalinan berlangsung maupun sebagai alat bantu diagnostik dokter pada pemeriksaan amniosentesis.Air ketuban mulai terbentuk pada usia kehamilan 4 minggu dan berasal dari sel darah ibu. Namun sejak usia kehamilan 12 minggu, janin mulai minum air ketuban dan mengeluarkan air seni. Sehingga terhitung sejak pertengahan usia kehamilan, air ketuban sebagian besar terbentuk dari air seni janin.Pada kehamilan normal, saat cukup bulan, air ketuban jumlahnya sekitar 1.000 cc.

Toxoplasmosis pada Kehamilan

•Juni 29, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

  Pemeriksaan laboratorium toksoplasma pada kehamilan

Apakah toxoplasmosis itu ?
Toxoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa  (hewan bersel satu) Toxoplasma gondii

Siapa saja yang bisa terkena ?
Semua orang (wanita & pria) bisa terkena penyakit ini.

Siapa saja yang perlu diperiksa Toxoplasma ?
” Wanita yang akan hamil
” Wanita yang baru / sedang hamil (bagi yg belum pernah atau hasil sebelumnya negatif)
” Bayi  baru lahir yg ibunya positif terinfeksi toksoplasma pada saat hamil
” Penderita yg diduga terinfeksi

Bagaimana mengenali gejala infeksi toxoplasma ?
Pada umumnya infeksi ini tidak menunjukkan gejala, kalaupun ada, gejalanya tidak khas/spesifik, sehingga sering dokter atau yang bersangkutan tidak mengenalinya.

Adakah cara lain untuk mendiagnosa infeksi ini ?
Ada. Diagnosa sangat tergantung pada pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium :
a. pemeriksaan parasit secara langsung : rumit, tidak praktis, butuh waktu lama, mahal.
b. pemeriksaan antibodi spesifik Toxoplasma  : IgG, IgM dan IgG affinity
Apakah IgM dan IgG Toxoplasma ?
IgM adalah antibodi yang pertama kali meningkat di darah bila terjadi infeksi Toxoplasma.

IgG adalah antibodi yang muncul setelah IgM dan biasanya  akan menetap seumur hidup pada orang yang terinfeksi atau pernah terinfeksi.

Apakah IgG affinity itu ?
Adalah kekuatan ikatan antara antibodi IgG dengan organisme penyebab infeksi.

Apa manfaat IgG affinity ?
Pada keadaan IgG dan IgM positif diperlukan pemeriksaan IgG avidity untuk memperkirakan kapan infeksi terjadi, apakah sebelum atau pada saat hamil

Infeksi yang terjadi sebelum kehamilan tidak perlu dirisaukan, hanya infeksi primer yang terjadi pada saat ibu hamil yang berbahaya, khususnya pada TriMester I

‘ Perlu diketahui kapan pemeriksaan dilakukan pada kehamilan

Tes toksoplasma apa saja yang perlu dilakukan ?
idealnya :
” Sebelum hamil ‘ tes IgG
” Saat hamil, sedini mungkin (bila belum pernah atau hasil sebelumnya negatif) IgG dan IgM Toxoplasma .

Bila hasil negatif, diperlukan pemantauan setiap 3 bulan pada sisa kehamilan

Bagaimana Interpretasinya ?

a. bila IgG (-) dan IgM (+)
Kasus ini jarang terjadi, kemungkinan merupakan awal infeksi.
Harus diperiksa kembali 3 mgg kemudian dilihat apakah IgG berubah jadi (+).
Bila tidak berubah, maka IgM tidak spesifik, yang bersangkutan tidak terinfeksi Toxoplasma.

b. bila IgG (-) dan IgM (-)
Belum pernah terinfeksi dan beresiko untuk terinfeksi.
Bila sedang hamil, perlu dipantau setiap 3 bulan pada sisa kehamilan (dokter mengetahui kondisi dan kebutuhan pemeriksaan anda).
Lakukan tindakan pencegahan agar tidak terjadi infeksi.

c. bila IgG (+) dan IgM (+)
Kemungkinan mengalami infeksi primer baru atau mungkin juga infeksi lampau tapi IgM nya masih terdeteksi (persisten=lambat hilang).
Oleh sebab itu perlu dilakukan tes IgG affinity langsung pada serum yang sama untuk memperkirakan kapan infeksinya terjadi, apakah sebelum atau sesudah hamil.

d. bila IgG (+) dan IgM (-)
Pernah terinfeksi sebelumnya
Bila pemeriksaan dilakukan pada awal kehamilan, berarti infeksi nya terjadi sudah lama (sebelum hamil) dan sekarang telah memiliki kekebalan, untuk selanjutnya tidak perlu diperiksa lagi.

Bila ada pertimbangan lain, Dr anda akan meminta izin untuk pemeriksaan lanjutan sesuai kebutuhan.
Rangkuman
” Toxoplasmosis berbahaya bagi janin bila ibu terinfeksi pada saat hamil, khususnya pada Trimester I
” Gejalanya tidak spesifik’ perlu pemeriksaan laboratorium
” Pemeriksaan awal kehamilan
o Bila IgG & IgM negatif, hindarilah sumber infeksi yang dapat menyebabkan ibu tertulat dan selanjutnya perlu dilakukan pemantauan sepanjang kehamilan.
o Bila IgG  dan IgM positif belum tentu terinfeksi ‘ tes lanjutan IgG avidity ‘ dpt memperkirakan kapan infeksi terjadi (sebelum atau pada saat hamil)

Dengan deteksi sedini mungkin dokter dapat segera memberikan pengobatan/ melakukan tindakan yang diperlukan.

Toksoplasmosis sering disebut sebagai salah satu penyebab terjadinya kegagalan kehamilan, dengan berbagai jenis manifestasi klinis seperti abortus, lahir prematur, IUGR, lahir mati dan lahir cacat (Kasper and Boothroyd, 1993; Remington, 1995; Denney, 1999). Prevalensi toksoplasmosis secara serologik pada berbagai populasi di dunia termasuk di Indonesia mencapai lebih dari 50% (Partono dan Cross, 1975; Samil, 1988; Decavalas, 1990; Allain, 1998; Jenum, 1998; Sardjono, 2001a), namun apakah toksoplasmosis memang menyebabkan kegagalan kehamilan dan bagaimana mekanisme terjadinya hal tersebut, sampai sekarang masih belum dapat dijelaskan dengan baik.

Telah diketahui bahwa selain status kekebalan hospes, tingkat virulensi parasit penyebab infeksi sangat menentukan manifestasi klinik yang timbul. Berbagai jenis galur Toxoplasma gondii dikenal mempunyai tingkat virulensi yang tinggi I menengah dan rendah (Evans, 1992; Roberts and Alexander, 1992; Darde, 1996; Guo and Johnson, 1996; Jensen, 1998; Dubey, 1999; Kobayashi, 1999). Infeksi patogen intraseluler termasuk Toxoplasma gondii, memicu sekresi berbagai jenis sitokin proinflamasi (Th1) seperti TNFα, IL-12 dan IFNy. Hal ini bertujuan untuk melawan patogen yang bersangkutan, dan berdampak protektif bagi hospes yang bersangkutan (Hyde, 1990; Kasper and Boothroyd, 1993; Kasper, 1998; Denney, 1999; Abbas, 2000). Tetapi, overproduksi IFNy akibat infeksi Toxoplasma gondii galur RH, justru rnenginduksi Fas-dependenf apoptosis sel-sel T pada Peyer’s patch dan plasenta (Liesenfeld, 1997; Bliss, 1999; Denney, 1999; Mordue, 2001), dan menyebabkan rusaknya sel-sel hepar serta kematian mencit (Darde, 1996; Guo and Johnson, 1996; Jensen, 1998).

Kehamilan adalah suatu fenomena fisiologik di mana konseptus pada hakekatnya merupakan parasit atau “semi-allograft”. Secara imunologik, parasit ini; sepatutnya mengalami reaksi penolakan dari tubuh ibu, tetapi kenyataannya kehamilan tetap berlangsung hingga bayi aterm. Kelahiran normal pada dasarnya adalah bentuk penolakan janin yang sebelumnya telah diterima, yang terjadi sesuai dengan program yang direncanakan. Kegagalan kehamilan adalah bentuk penolakan yang terjadi lebih dini. Dari semua kasus kegagalan kehamilan 25-40% di antaranya terjadi pasca implantasi (Klein & Remington, 1995; Norwitz, 2001). Fenomena penerimaan dan penolakan janin ini cukup menarik perhatian para ahli sejak lebih dari setengah abad yang lalu (Cunningham, 1997; Hilla, 1997; Beer and Kwak Kim, 1998; Bowen, 2001). Berbagai konsep yang diajukan, khususnya tentang keterlibatan plasenta dalam imuno-patogenesis terjadinya kegagalan kehamilan, masih diperdebatkan dan belum mencapai kesepakatan pendapat.

Apoptosis sel-sel plasenta adalah proses yang fisiologis. Pada kehamilan normal ditemukan apoptosis sel-sel desidua den trofoblas yang meningkat seiring dengan usia kehamilan (Smith, 1997; Runic, 1998; Halperin, 2000). Derajat apoptosis sel-se plasenta bayi aterm yang lahir spontan tidak berbeda dengan yang lahir melalui tindakan pembedahan caesar (Thief, 2000). Apoptosis sel-sel desidua dan villi khorionik pada kasus-kasus abortus spontan lebih tinggi dibanding pada kehamilan normal (Kokawa, 1998a; Jerzak, 1999; Hirabayashi, 1999; Ejima, 2000; Qumsiyeh, 2000). Kegagalan kehamilan diduga teejadi karena adanya peningkatan apoptosis sel-sel plasenta yang melebihi keadaan normal. Peningkatan IFNy pada toksoplasmosis dapat meningkatkan apoptosis sel-sel plasenta melalui jalur ekstrinsik, yaitu melalui interaksi receptor-ligand-FADD, yang mengaktivasi initiator dan effector caspases, termasuk caspase-3 (Thomberry, 1998; Cotran, 1999; Anonymous, 2003; Rowe and Chuang, 2004).

Penelitian eksperimental laboratorium ini dilakukan dengan menggunakan mencit BALB/c bunting. sebagai hewan coba, dengan tujuan untuk mencari dan mempelajari mekanisme terjadinya kegagalan kehamilan akibat toksoplasmosis. Untuk mendapatkan sejumlah mencit bunting dalam waktu yang bersamaan, dilakukan sinkronisasi oestrus terhadap 80 ekor mencit BALB/c betina yang sudah pernah beranak dengan memanfaatkan fenomena Lee Boot effect, Whitten effect dan Pheromomone effect. (O’Brien and Holmes, 1993; Bailie, 2000).

Setelah dikawinkan secara monogami selama satu malam, mencit-mencit tersebut dibagi menjadi 4 kelompok dosis, masing-masing beranggota 20 ekor. Inokulasi dengan takhizoit Toxoplasma gondii galur RH dilakukan pada H-9 pasca kawin (p.k.) dengan tiga tingkatan dosis, yaitu dosis 10, 50 dan 100 takhizoit, ditambah kelompok kontrol (dosis 0). Pengamatan untuk masing-masing kelompok dosis dilakukan pada H-12, H-14, H-16 dan H-18 p.k. Darah diambil dari sinus orbitalis sebelum mencit dimatikan dengan dislokasi servikal, lalu diukur kadar sitokin IFNy plasma dengan metoda ELISA. Takhizoit dalam cairan peritoneum dihitung menggunakan kamar hitung Neubauer. Setelah dibedah, hasil kehamilan dinilai dengan menghitung jumlah janin pada kedua uterus pada masing-masing mencit. Dua lobus uterus yang berisi janin masing-masing diambil untuk dibuat sediaan histopatologi. Dari irisan jaringan yang serial, salah satu di antaranya dilakukan pemeriksaan imunohisto-kimia untuk menilai ekspresi enzim caspase-3. lrisan sediaan histopatologi yang lain, masing-masing diwamai dengan HE dan perwamaan immunohistokimia menggunakan Apoptag Kit, lalu dihitung indeks apoptosis sel-sel trofoblas dan desidua dengan mikroskop cahaya biasa pada 20 lapangan pandang dengan pembesaran 1000X.

Dari 80 ekor mencit yang dikawinkan secara berpasangan, temyata yang berhasil bunting pada pengamatan secara fisik berjumlah 45 ekor (pregnancy rate = 56,25%), tetapi pada pengelompokan ulang berdasarkan jumlah mencit pada masing-masing kelompok dosis yang masih hidup sampai dengan jadwal pembedahan serta memenuhi kriteria masukan, hanya diperoleh 24 ekor mencit, masing-masing 9 mencit dibedah pada H12 mewakili periode-2, dan 15 mencit dibedah pada H15-16 mewakili periode-3 dari kebuntingan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa infeksi Toxoplasma gondii galur RH pada mencit BALB/c bunting menurunkan jumlah janin. Pengaruh ini baru terlihat secara nyata pada pengamatan H15-16 p.k., atau 6-7 hari p.i. Hasil uji ANOVA dan analisis jalur (Path Analysis) menunjukkan bahwa hasil kebuntingan berupa jumlah janin dipengaruhi oleh lama infeksi (-0,269; p=0,005), kenaikan kadar IFNy plasma (-0,377; p=0,002) dan peningkatan apoptosis sel-sel trofoblas (-0,718; p=,000). Jumlah janin tidak dipengaruhi oleh dosis infeksi (-0,01; p=0,904), jumlah takhizoit (0,206; p=0,114) dan apoptosis sel-sel desidua (0,014; p=0,809). Kadar IFNy plasma dipengaruhi oleh jumlah takhizoit (0,647; p=,00), dan lama infeksi (0,288; p=0,01), tetapi tidak dipengaruhi oleh dosis infeksi (0,023; p=0,824). Kenaikan kadar IFNy plasma meningkatkan aktivitas caspase-3 (0,359; p=0,01) dan kemudian meningkatkan apoptosis pada sel-sel trofoblas (0,962 p = 0,00), tetapi tidak berpengaruh langsung pada apoptosis sel-sel trofoblas (0,082; p=0,232). Kenaikan kadar IFNy plasma tidak meningkatkan aktivitas caspase 3 (-0,028 p=0,854) dan apoptosis sel-sel desidua secara langsung (0,057; p= 0,504 ataupun melalui caspase 3 (-0,028 ; p=0,854). Pada periode 3 kebuntingan mencit, indeks apoptosis sel-sel trofoblas lebih tinggi secara siginifikan dibanding indeks apoptosis sel-sel desidua (p <0,05). Peningkatan apoptosis sel-sel trofoblas menurunkan jumlah janin (-0,718 p=0,00) sedang apoptosis sel-sel desidua tidak berpengaruh terhadap jumlah janin (0,014; p=0.809).

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa infeksi Toxoplasma pada periode-1 dan lama berlangsungnya infeksi mempengaruhi hasil kebuntingan. pengaruh toksoplasmosis pada hasil kebuntingan lebih banyak melalui mekanisme imunologis dan biokimiawi dibandingkan karena parasitnya sendiri. Peningkatan kadar IFNy yang berlebihan akibat infeksi Toxoplasma gondii galur RH, menurunkan jumlah janin secara signifikan (-0,377; p=0,002). Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa masih banyak mekanisme pada tingkat molekul dan sel yang terjadi, tetapi belum dapat dijelaskan dari hasil penelitian ini dan perlu diteliti lebih jauh. Penurunan jumlah janin akibat kenaikan kadar IFNy plasma juga terjadi melalui jalur apoptosis sel-sel trofoblas secara ekstrinsik, yang didahului oleh peningkatan aktivitas enzim caspase-3. Penurunan jumlah janin akibat peningkatan kadar IFNy yang dipicu oleh infeksi Toxoplasma gondii galur RH pada mencit BALB/c bunting, patut diduga terjadi melalui peran makrofag. Makrofag yang mengisi 10-30% populasi sel di jaringan desidua dan pada kebuntingan normal berperan melakukan regulasi apoptosis sel-sel trofoblas, akan teraktivasi dan mensekresi IFNy lokal lebih banyak . Hal ini menyebabkan ketahanan sel-sel trofoblas terhadap Fas-mediated apoptosis menurun sehingga jumlah sel yang apoptosis semakin meningkat Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kegagalan kehamilan pada toksoplasmosis lebih diprakarsai oleh pihak fetal dibanding pihak maternal.

Kehamilan Ektopik

•Juni 29, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mengenal Kehamilan ‘Ektopik’

ISTILAH hamil di luar kandungan kerap kita dengar. Namun, seperti apakah kehamilan tersebut dan seberapa besarkah bahanyanya, masih belum banyak yang mengetahui.Pada kehamilan yang normal, janin berada pada rongga rahim. Namun pada keadaan tertentu, janin dapat pula berada di luar rongga rahim yang dikenal dengan istilah kehamilan di luar kandungan atau dalam ilmu kedokteran disebut sebagai kehamilan ektopik.

Kehamilan ektopik merupakan kehamilan dengan sel telur yang telah dibuahi tumbuh dan berimplantasi (menempel) di tempat yang normal yakni dalam endometrium (selaput lendir yang kaya kelenjar) rongga rahim (kavum uterus).

Kehamilan ektopik dapat terjadi di beberapa tempat pada organ reproduksi wanita selain rongga rahim, antara lain di tuba falopii (saluran telur), kanalis servikalis (leher rahim), ovarium (indung telur), dan rongga perut. Yang terbanyak terjadi di tuba falopii (90%).

Kehamilan ektopik dapat mengalami abortus (ruptur/gugur) apabila kehamilan berkembang melebihi kapasitas ruang tempat implantasi, keadaan ini disebut kehamilan ektopik terganggu. Kehamilan ektopik merupakan suatu keadaan yang berbahaya karena dapat menyebabkan perdarahan hebat dan berulang. Pada akhirnya, ini dapat menyebabkan penurunan fertilitas atau kesuburan dan bahkan kematian ibu dan janin.

Pada kehamilan normal, proses pembuahan (pertemuan sel telur dengan sperma) terjadi pada tuba, kemudian sel telur yang telah dibuahi digerakkan dan berimplantasi pada endometrium rongga rahim. Kehamilan ektopik dapat disebabkan antara lain karena bekas radang pada tuba, sehingga hasil pembuahan terhambat ke rongga rahim, terdapat tumor atau kista pada tuba, endometriosis (jaringan endometrium ditemukan di luar kavum uteri dan di luar miometrium), memiliki riwayat operasi tuba, dan kelainan anatomi kongenital.

Pada kehamilan perut, janin berkembang dalam rongga perut, tapi tempat pertumbuhan yang tidak sempurna menyebabkan janin tidak tumbuh normal atau kematian janin. Jika janin meninggal pada usia kehamilan lanjut, janin dapat membatu alias mengeras.

Bagaimana gejala kehamilan ektopik? Gejala awal yang harus diperhatikan antara lain terdapat tanda-tanda kehamilan, seperti mual, muntah, tidak menstruasi, dan sebagainya, nyeri yang dapat dirasakan pada satu sisi atau kedua sisi perut bagian atas, bawah, atau seluruh bagian perut, terdapat bercak darah (spotting) atau perdarahan yang biasanya berwarna hitam.

Gejala yang lebih lanjut antara lain penderita pucat, kesadaran turun atau lemah, bahkan shock akibat kehilangan banyak darah, nyeri bahu dan bagian samping leher, nyeri perut yang disertai perut menegang.

Walaupun gejala-gejala tersebut telah jelas, tetap perlu dilakukan beberapa pemeriksaan pada penderita. USG (ultrasonografi) dapat memberi diagnosis pasti kehamilan ektopik jika ditemukan kantong gestasi di luar rahim yang dalam kantong gestasi tersebut tampak denyut jantung janin.

Laparoskopi merupakan diagnosis awal yang sangat berguna pada kehamilan ektopik, dengan cara ini dapat dilihat perubahan-perubahan pada tuba secara langsung.

Penanganan kehamilan ektopik harus sesegera mungkin. Jika kehamilan ektopik telah diketahui sejak dini, ketika belum terjadi ruptur dan penderita dalam kondisi stabil, dapat diberikan obat. Pemberian obat ini dilakukan dengan pengawasan yang ketat dan penderita juga harus memenuhi kriteria pemberian obat tersebut.

Haruskah dioperasi? Operasi dilakukan sesuai kondisi penderita. Jika penderita sudah punya cukup anak dan terdapat kelainan pada tuba, dipertimbangkan pengangkatan tuba untuk mencegah kehamilan ektopik berulang. Namun, jika penderita belum mempunyai anak atau masih ingin mempunyai anak lagi, dipertimbangkan operasi untuk mempertahankan tuba.

Deteksi dini kehamilan ektopik sangat penting karena dengan mengetahui sejak awal, dapat dilakukan penanganan secara cepat.

Kehamilan Lewat Bulan

•Juni 29, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar
Bagi seorang Ibu melahirkan sang buah hati sangat ditunggu-tunggu. Tapi bagaimana bila bayi yang hendak dilahirkan justru telat dari tanggal yang sudah diperkirakan dokter? Apa yang akan terjadi pada sang Ibu ataupun janinnya?Memang, tidak semua kehamilan lengkap berusia 9 bulan sepuluh hari. Tidak semua wanita hamil berhasil melahirkan pada tanggal perkiraan melahirkan. Ada kalanya lebih cepat, bahkan ada yang lebih lambat. Maka, menghitung kehamilan mesti secermat mungkin.

Karena jumlah hari dalam satu bulan selama satu tahun tidaklah sama, maka kalangan medis tidak pernah menghitung usia kehamilan berdasarkan hitungan bulan. Lebih banyak digunakan hitungan berdasarkan minggu. Usia kehamilan dianggap normal jika persalinan terjadi dalam usia kehamilan 38-42 minggu. Melebihi batasan usia tersebut dianggap kehamilan lewat waktu.

Kehamilan bisa lewat waktu karena beberapa hal, bisa salah memperkirakan usia kehamilan. Ini dapat disebabkan karena siklus haid tidak teratur, lupa hari pertama dari haid yang terakhir karena tidak pernah dicatat. Mempergunakan kontrasepsi hormonal baik suntik KB atau pun Pil KB juga bisa membuat lupa hari pertama dari haid yang terakhir.

Mengapa Lewat Waktu
Kehamilan lewat waktu bisa terjadi juga karena terdapat kelainan pada janin. Ini mengakibatkan tidak adanya kontraksi dari janin untuk memulai proses persalinan. Kelainan tersebut di antaranya: anensepalus, hipoplasia kelenjar supra renal janin dan janin tidak memiliki kelenjar hipofisa. Kelainan pada plasenta dan kelainan letak kehamilan juga bisa menjadi penyebab lewat waktu.

Agar tidak terjadi salah penghitungan, maka penghitungan kehamilan perlu dilakukan secermat mungkin. Jika siklus haid teratur 28 plus minus 5 hari, maka dapat dilakukan penambahan 7 hari pada tanggal dari pertama haid yang terakhir, mengurangi bulan yang mendapat haid dengan 3 dan jika perlu menambahkan tahun dengan 1.

Namun yang paling tepat dengan melakukan penilaian biometrik janin pada trimester I kehamilan dengan USG.

Risiko Lewat Waktu

Tumbuh dan berkembangnya janin di dalam rahim tergantung pada dua fungsi penting plasenta. Fungsi tersebut adalah pernapasan dan gizi. Jika kehamilan telah lewat waktu, plasenta akan mengalami proses penuaan sehingga fungsinya akan menurun atau berkurang.

Menurunnya fungsi plasenta ini akan berakibat pada pertumbuhan dan perkembangan bayi. Bayi mulai kekurangan asupan gizi dan pasokan oksigen dari ibunya. Bayi juga disebut dismatur atau pasca matur.

Karena lewat waktu, cairan ketuban bisa berubah menjadi sangat kental dan hijau. Sehingga cairan dapat terhisap masuk ke dalam paru-paru bayi, maka harus dihisap keluar dari saluran nafas bayi. Janin juga dapat lahir dengar berat badan yang berlebihan.

Ketika lahir, bayi akan memiliki kulit yang kering, pecah-pecah, mengelupas, keriput, serta kuku jari yang panjang dan rambut yang lebat. Verniks yang membungkus tubuhnya pun sedikit. Si bayi akan tampak seperti kekurangan gizi karena berkurangnya jumlah lemak di bawah kulit. Karena bayi lewat waktu menghadapi bahaya kehilangan dukungan gizi dari plasenta, maka penting mengetahui perkiraan tanggal lahir yang sebenarnya. Selain itu pemeriksaan kehamilan harus dilakukan secara rutin.

Merawat Bayi Lahir Lewat Waktu

  • Jaga agar cairan ketuban yang kental tidak terhisap oleh bayi. Jika sudah terhisap, maka cairan ketuban harus dihisap keluar dari saluran nafas bayi.
  • Jaga lingkungan bayi agar tetap hangat.
  • Berikan minuman yang cukup. Dengan ASI dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi bayi.
  • Pada kulitnya yang keriput, rajinlah untuk mengusapnya dengan cream bayi.
  • Berilah sarung tangan agar kuku-kukunya yang panjang tidak menggaruk dan melukai bagian tubuhnya yang lain, terutama muka. Potonglah kukunya jika Anda sudah yakin benar jari-jarinya telah kuat.

Sumber: Tabloid Ibu Anak

HIV

•Juni 29, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pdpersi, Jakarta – Belum lagi permasalahan penyakit polio dan busung lapar mereda, kembali dunia kesehatan Indonesia terguncang. Telah dilaporkan 34 anak usia bawah lima tahun (Balita) di propinsi Papua positif mengidap Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Tampaknya kasus ini tidak hanya menimpa anak balita di propinsi tersebut. Mungkin juga akan dialami beberapa anak balita di propinsi lainnya, mengingat kasus HIV juga mulai menyebar ke seluruh pelosok Indonesia.

Infeksi HIV adalah infeksi virus yang secara progresif menghancurkan sel-sel darah putih dan menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). AIDS adalah penyakit fatal yang merupakan stadium lanjut dari infeksi HIV. Infeksi oleh HIV biasanya berakibat pada kerusakan sistem kekebalan tubuh secara progresif, menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik dan kanker tertentu (terutama pada orang dewasa).

Gejala umum yang sering terjadi pada anak adalah diare berkepanjangan, sering mengalami infeksi atau demam lama, tumbuh jamur di mulut, badan semakin kurus dan berat badan terus turun. Serta gangguan sistem dan fungsi organ tubuh lainnya yang berlangsung kronis atau lama. Secara primer HIV dan AIDS terjadi pada dewasa muda, tapi jumlah anak-anak dan remaja yang terkena semakin bertambah jumlahnya.

Penularan infeksi HIV dari Ibu ke Anak merupakan penyebab utama infeksi HIV pada anak usia di bawah 15 tahun. Sejak HIV menjadi pandemic di dunia, diperkirakan 5,1 juta anak di dunia terinfeksi HIV. Hampir sebagian besar penderita tersebut tertular melalui penularan dari ibu ke anak. Setiap tahun diperkirakan lebih dari 800.000 bayi menjadi terinfeksi HIV akibat penularan dari ibu ke anak. Dan diikuti adanya sekitar 610.000 kematian anak karena virus tersebut.

Di Indonesia menurut Ditjen PPM dan PL Departemen kesehatan tercatat 3568 kasus HIV/AIDS pada akhir bulan Desember 2002. Terdapat 20 anak dengan infeksi HIV yang tertular ibunya. Penelitian yang dilakukan Yayasan Pelita Ilmu dan Bagian kebidanan FKUI/RSCM selama tahun 1999-2001 melakukan pemeriksaan pada 558 ibu hamil di daerah miskin di Jakarta, menunjukkan hasil sebanyak 16 orang (2,86%) mengidap infeksi HIV.

Wanita sering tertular infeksi HIV melalui hubungan heterosexual dengan pasangan yang terinfeksi atau melalui penggunaan obat-obatan, Meningkatnya infeksi HIV pada anak adalah karena akibat penularan selama perinatal (periode kehamilan, selama dan setelah persalinan). Lebih dari 90% AIDS pada anak yang dilaporkan tahun 1994 terjadi karena transmisi dari ibu hamil ke anak.

Penularan terhadap bayi bisa terjadi selama kehamilan, persalinan atau postnatal melalui ASI. Angka kejadian penularan dari ibu ke anak diperkirakan sekitar 20% – 30%. Penularan HIV dari ke janin bila tanpa dilakukan intervensi dilaporkan berkisar antara 155 – 45%.

Resiko penularan di negara berkembang sekitar 21% – 43%, lebih tinggi dibandingkan resiko penularan di negara maju sekitar 14%-26%. Penularan dapat tejadi saat kehamilan, intrapartum, dan pasca persalinan. Resiko infeksi penularan terbanyak terjadi saat persalinan sebesar 18%, di dalam kandungan 6% dan pasca persalinan sebesar 4%.

Penularan di dalam kandungan didiagnosis jika pemeriksaan virologis negatif dalam 48 jam pertama setelah kelahiran, selanjutnya tes minggu pertama menjadi posItif dan bayi tidak menyusui Ibu. Selama persalinan bayi dapat tertular darah atau cairan servikovaginal yang mengandung HIV melalui paparan trakeobronkial atau tertelan pada jalan lahir.

Pada ibu yang terinfeksi HIV, ditemukan virus pada cairan vagina 21%, cairan aspirasi lambung pada bayi yang dilahirkan. Besarnya paparan pada jalan lahir sangat dipengaruhi dengan adanya kadar HIV pada cairan vagina ibu, cara persalinan, ulkus serviks atau vagina, perlukaan dinding vagina, infeksi cairan ketuban, ketuban pecah dini, persalinan prematur, penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum atau forsep, episiotomi dan rendahnya kadar CD4 pada ibu. Ketuban pecah lebih dari 4 jam sebelum persalinan akan meningkatkan resiko transmisi antepartum sampai dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari 4 jam sebelum persalinan.

Transmisi pasca persalinan sering terjadi melalui pemberian ASI (Air susu ibu). ASI diketahui banyak mengandung HIV dalam jumlah cukup banyak. Konsentrasi median sel yang terinfeksi HIV pada ibu yang tenderita HIV adalah 1 per 10 4 sel, partikel virus ini dapat ditemukan pada componen sel dan non sel ASI. Berbagai factor yang dapat mempengaruhi resiko tranmisi HIV melalui ASI antara lain mastitis atau luka di puting, lesi di mucosa mulut bayi, prematuritas dan respon imun bayi.

Penularan HIV melalui ASI diketahui merupakan faktor penting penularan paska persalinan dan meningkatkan resiko tranmisi dua kali lipat. Beberapa peneliti membuktikan pemberian ASI pada ibu dengan HIV meningkatkan tranmisi HIV 0,7% perbulan pada usia 0 sampai 5 bulan, 0,6% pada usia 6-11 bulan, lalu 0,3% perbulan pada usia 12-17 bulan.

Penelitian Leroy menyebutkan resiko transmisi HIV melalui ASI diperkirakan adalah 3,2 per 100 anak pertahun. Keadaan penyakit ibu juga menjadi pertimbangan karena Ibu yang terinfeksi HIV mempunyai resiko kematian yang lebih tinggi dari yang tidak menyusui. WHO, Unicef dan UNAIDS mengeluarkan rekomendasi untuk menghindari Air Susu Ibu yang terkena HIV jika alternative susu lainnya tersedia dan aman.

Pemeriksaan standar seperti enzyme-linked immunoabsorbent assay dan analisa Western termasuk antibodi immunoglobulin. Imuniglobulin G (IgG) tidak dapat mendiagnosis HIV pada bayi di bawah usia 18 bulan. Hal ini disebabkan karena masih ditemukannya IgG anti HIV ibu yang melewati plasenta di darah bayi, bahkan kadang hingga usia 24 bulan. Sedangkan IgA dan IgM anti HIV tidak dapat melalui plasenta sehingga dapat dijadikan konfirmasi diagnosis bila ditemukan pada bayi. Namun sensitifitas kedua pemeriksaan tersebut masih sangat rendah.

Pemeriksaan yang bisa dilakukan pada usia di bawah usia 18 bulan adalah pemeriksaan kultur HIV, tehnik PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mendeteksi DNA atau RNA HIV dan deteksi antigen p24. Infeksi HIV pada bayi di bawah 18 bulan dapat ditegakkan bila dua sampel dari dua kali pemeriksaaan yang berbeda dengan kultur, DNA HIV atau RNA HIV menunjukkan hasil positif. Infeksi HIV bisa disingkirkan bila 2 macam sampel tes yang berbeda menunjukkan hasil negatif.

Pemeriksaan dengan PCR atau kultur virus dapart dilakukan sejak lahir dan usia 1 atau 2 bulan. Darah tali pusat tidak dapat digunakan dalam pemeriksaan HIV. Jika PCR kultur virus adalah positif, maka pemeriksaan harus diulang segera untuk konfirm asi sebelum diagnosis HIV dibuat. Bila hasil PCR atau kultur virus dilakukan saat lahir dan usia 1-2 bulan tidak menunjukkan hasil positif dan bayi tidak menunjukkan gejala maka pemeriksaan diulang usia 4 bulan. Pemeriksaan lainnya harus dimajukan sebelum usia 4 bulan bila timbul gejala infeksi pada bayi. Atau bila pemeriksaan hematologi atau imunologi menunjang adanya infeksi HIV.

Orangtua atau ibu dari bayi yang terpapar HIV harus menyadari masalah yang dihadapi anaknya sejak awal. Penentuan diagnosis HIV yang akan dihadapi penderita sangat berpengaruh pada orang tua dan keluarga. Ibu penderita harus diberikan informasi yang jelas tentang seringnya evaluasi pemeriksaan, kesulitan diagnosis awal infeksi HIV pada bayi, manfaat pemeriksaan untuk menentukan status infeksi bayi, pemberian Zidovudine dalam mengurangi resikopenularan, terapi profilasis PCP, modifikasi dalam rekomendasi imunisasi, rekomendasi untuk tidak memberi ASI dan kewaspadaan untuk mencegah penyebaran penyakit.

Dokter yang merawat harus mendiskusikan bersama orang tua tentang penilaian gejala, tampilan klinis penyakit, manifestasi hematologi, penyakit ginjal atau manifestasi neurologi yang diakibatkan oleh penyakit AIDS.

Peningkatan kasus HIV memungkinkan terjadi peningkatan keterlibatan dokter khususnya dokter spesialis kandungan dan dokter anak dan tenaga medis lainnya dalam perawatan bayi yang terpapar HIV. Masyarakat khususnya yang beresiko terinfeksi HIV hendaknya juga turut aktif dalam pencegahan penularan HIV pada bayi yang akan dilahirkan. Skrening atau pemeriksan awal HIV pada Ibu hamil yang beresiko harus sudah menjadi tindakan rutin. Resiko dan potensi pada anak untuk terinfeksi HIV semakin meningkat pesat.

Untuk mencegah dalam kondisi yang lebih mangkawatirkan, maka pencegahan harus terus dilakukan. Mengurangi kehidupan seks bebas, menghindari narkoba dan perilaku negatif lainnya adalah tindakan yang harus dikampanyekan terus menerus. Jangan sampai dosa dan perbuatan buruk orang tua menjadi beban kehidupan anak Indonesia di kemudian hari.