HIV

Pdpersi, Jakarta – Belum lagi permasalahan penyakit polio dan busung lapar mereda, kembali dunia kesehatan Indonesia terguncang. Telah dilaporkan 34 anak usia bawah lima tahun (Balita) di propinsi Papua positif mengidap Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Tampaknya kasus ini tidak hanya menimpa anak balita di propinsi tersebut. Mungkin juga akan dialami beberapa anak balita di propinsi lainnya, mengingat kasus HIV juga mulai menyebar ke seluruh pelosok Indonesia.

Infeksi HIV adalah infeksi virus yang secara progresif menghancurkan sel-sel darah putih dan menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). AIDS adalah penyakit fatal yang merupakan stadium lanjut dari infeksi HIV. Infeksi oleh HIV biasanya berakibat pada kerusakan sistem kekebalan tubuh secara progresif, menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik dan kanker tertentu (terutama pada orang dewasa).

Gejala umum yang sering terjadi pada anak adalah diare berkepanjangan, sering mengalami infeksi atau demam lama, tumbuh jamur di mulut, badan semakin kurus dan berat badan terus turun. Serta gangguan sistem dan fungsi organ tubuh lainnya yang berlangsung kronis atau lama. Secara primer HIV dan AIDS terjadi pada dewasa muda, tapi jumlah anak-anak dan remaja yang terkena semakin bertambah jumlahnya.

Penularan infeksi HIV dari Ibu ke Anak merupakan penyebab utama infeksi HIV pada anak usia di bawah 15 tahun. Sejak HIV menjadi pandemic di dunia, diperkirakan 5,1 juta anak di dunia terinfeksi HIV. Hampir sebagian besar penderita tersebut tertular melalui penularan dari ibu ke anak. Setiap tahun diperkirakan lebih dari 800.000 bayi menjadi terinfeksi HIV akibat penularan dari ibu ke anak. Dan diikuti adanya sekitar 610.000 kematian anak karena virus tersebut.

Di Indonesia menurut Ditjen PPM dan PL Departemen kesehatan tercatat 3568 kasus HIV/AIDS pada akhir bulan Desember 2002. Terdapat 20 anak dengan infeksi HIV yang tertular ibunya. Penelitian yang dilakukan Yayasan Pelita Ilmu dan Bagian kebidanan FKUI/RSCM selama tahun 1999-2001 melakukan pemeriksaan pada 558 ibu hamil di daerah miskin di Jakarta, menunjukkan hasil sebanyak 16 orang (2,86%) mengidap infeksi HIV.

Wanita sering tertular infeksi HIV melalui hubungan heterosexual dengan pasangan yang terinfeksi atau melalui penggunaan obat-obatan, Meningkatnya infeksi HIV pada anak adalah karena akibat penularan selama perinatal (periode kehamilan, selama dan setelah persalinan). Lebih dari 90% AIDS pada anak yang dilaporkan tahun 1994 terjadi karena transmisi dari ibu hamil ke anak.

Penularan terhadap bayi bisa terjadi selama kehamilan, persalinan atau postnatal melalui ASI. Angka kejadian penularan dari ibu ke anak diperkirakan sekitar 20% – 30%. Penularan HIV dari ke janin bila tanpa dilakukan intervensi dilaporkan berkisar antara 155 – 45%.

Resiko penularan di negara berkembang sekitar 21% – 43%, lebih tinggi dibandingkan resiko penularan di negara maju sekitar 14%-26%. Penularan dapat tejadi saat kehamilan, intrapartum, dan pasca persalinan. Resiko infeksi penularan terbanyak terjadi saat persalinan sebesar 18%, di dalam kandungan 6% dan pasca persalinan sebesar 4%.

Penularan di dalam kandungan didiagnosis jika pemeriksaan virologis negatif dalam 48 jam pertama setelah kelahiran, selanjutnya tes minggu pertama menjadi posItif dan bayi tidak menyusui Ibu. Selama persalinan bayi dapat tertular darah atau cairan servikovaginal yang mengandung HIV melalui paparan trakeobronkial atau tertelan pada jalan lahir.

Pada ibu yang terinfeksi HIV, ditemukan virus pada cairan vagina 21%, cairan aspirasi lambung pada bayi yang dilahirkan. Besarnya paparan pada jalan lahir sangat dipengaruhi dengan adanya kadar HIV pada cairan vagina ibu, cara persalinan, ulkus serviks atau vagina, perlukaan dinding vagina, infeksi cairan ketuban, ketuban pecah dini, persalinan prematur, penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum atau forsep, episiotomi dan rendahnya kadar CD4 pada ibu. Ketuban pecah lebih dari 4 jam sebelum persalinan akan meningkatkan resiko transmisi antepartum sampai dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari 4 jam sebelum persalinan.

Transmisi pasca persalinan sering terjadi melalui pemberian ASI (Air susu ibu). ASI diketahui banyak mengandung HIV dalam jumlah cukup banyak. Konsentrasi median sel yang terinfeksi HIV pada ibu yang tenderita HIV adalah 1 per 10 4 sel, partikel virus ini dapat ditemukan pada componen sel dan non sel ASI. Berbagai factor yang dapat mempengaruhi resiko tranmisi HIV melalui ASI antara lain mastitis atau luka di puting, lesi di mucosa mulut bayi, prematuritas dan respon imun bayi.

Penularan HIV melalui ASI diketahui merupakan faktor penting penularan paska persalinan dan meningkatkan resiko tranmisi dua kali lipat. Beberapa peneliti membuktikan pemberian ASI pada ibu dengan HIV meningkatkan tranmisi HIV 0,7% perbulan pada usia 0 sampai 5 bulan, 0,6% pada usia 6-11 bulan, lalu 0,3% perbulan pada usia 12-17 bulan.

Penelitian Leroy menyebutkan resiko transmisi HIV melalui ASI diperkirakan adalah 3,2 per 100 anak pertahun. Keadaan penyakit ibu juga menjadi pertimbangan karena Ibu yang terinfeksi HIV mempunyai resiko kematian yang lebih tinggi dari yang tidak menyusui. WHO, Unicef dan UNAIDS mengeluarkan rekomendasi untuk menghindari Air Susu Ibu yang terkena HIV jika alternative susu lainnya tersedia dan aman.

Pemeriksaan standar seperti enzyme-linked immunoabsorbent assay dan analisa Western termasuk antibodi immunoglobulin. Imuniglobulin G (IgG) tidak dapat mendiagnosis HIV pada bayi di bawah usia 18 bulan. Hal ini disebabkan karena masih ditemukannya IgG anti HIV ibu yang melewati plasenta di darah bayi, bahkan kadang hingga usia 24 bulan. Sedangkan IgA dan IgM anti HIV tidak dapat melalui plasenta sehingga dapat dijadikan konfirmasi diagnosis bila ditemukan pada bayi. Namun sensitifitas kedua pemeriksaan tersebut masih sangat rendah.

Pemeriksaan yang bisa dilakukan pada usia di bawah usia 18 bulan adalah pemeriksaan kultur HIV, tehnik PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mendeteksi DNA atau RNA HIV dan deteksi antigen p24. Infeksi HIV pada bayi di bawah 18 bulan dapat ditegakkan bila dua sampel dari dua kali pemeriksaaan yang berbeda dengan kultur, DNA HIV atau RNA HIV menunjukkan hasil positif. Infeksi HIV bisa disingkirkan bila 2 macam sampel tes yang berbeda menunjukkan hasil negatif.

Pemeriksaan dengan PCR atau kultur virus dapart dilakukan sejak lahir dan usia 1 atau 2 bulan. Darah tali pusat tidak dapat digunakan dalam pemeriksaan HIV. Jika PCR kultur virus adalah positif, maka pemeriksaan harus diulang segera untuk konfirm asi sebelum diagnosis HIV dibuat. Bila hasil PCR atau kultur virus dilakukan saat lahir dan usia 1-2 bulan tidak menunjukkan hasil positif dan bayi tidak menunjukkan gejala maka pemeriksaan diulang usia 4 bulan. Pemeriksaan lainnya harus dimajukan sebelum usia 4 bulan bila timbul gejala infeksi pada bayi. Atau bila pemeriksaan hematologi atau imunologi menunjang adanya infeksi HIV.

Orangtua atau ibu dari bayi yang terpapar HIV harus menyadari masalah yang dihadapi anaknya sejak awal. Penentuan diagnosis HIV yang akan dihadapi penderita sangat berpengaruh pada orang tua dan keluarga. Ibu penderita harus diberikan informasi yang jelas tentang seringnya evaluasi pemeriksaan, kesulitan diagnosis awal infeksi HIV pada bayi, manfaat pemeriksaan untuk menentukan status infeksi bayi, pemberian Zidovudine dalam mengurangi resikopenularan, terapi profilasis PCP, modifikasi dalam rekomendasi imunisasi, rekomendasi untuk tidak memberi ASI dan kewaspadaan untuk mencegah penyebaran penyakit.

Dokter yang merawat harus mendiskusikan bersama orang tua tentang penilaian gejala, tampilan klinis penyakit, manifestasi hematologi, penyakit ginjal atau manifestasi neurologi yang diakibatkan oleh penyakit AIDS.

Peningkatan kasus HIV memungkinkan terjadi peningkatan keterlibatan dokter khususnya dokter spesialis kandungan dan dokter anak dan tenaga medis lainnya dalam perawatan bayi yang terpapar HIV. Masyarakat khususnya yang beresiko terinfeksi HIV hendaknya juga turut aktif dalam pencegahan penularan HIV pada bayi yang akan dilahirkan. Skrening atau pemeriksan awal HIV pada Ibu hamil yang beresiko harus sudah menjadi tindakan rutin. Resiko dan potensi pada anak untuk terinfeksi HIV semakin meningkat pesat.

Untuk mencegah dalam kondisi yang lebih mangkawatirkan, maka pencegahan harus terus dilakukan. Mengurangi kehidupan seks bebas, menghindari narkoba dan perilaku negatif lainnya adalah tindakan yang harus dikampanyekan terus menerus. Jangan sampai dosa dan perbuatan buruk orang tua menjadi beban kehidupan anak Indonesia di kemudian hari.

~ oleh rizkiyana pada Juni 29, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: