Kehamilan Resiko Tinggi

HAMIL SEHAT WALAU MENGIDAP PENYAKIT

Kehamilan merupakan suatu karunia terbesar yang diberikan Tuhan kepada para ibu. Namun, ibu hamil yang memiliki riwayat atau predisposisi penyakit bawaan ataupun penyakit menahun cenderung mencemaskan kehamilannya. Seperti pengidap penyakit hipertensi, diabetes, jantung dan hepatitis B yang digolongkan sebagai ibu dengan kehamilan berisiko tinggi (KRT). Menurut dr. Puji Ichtiarti, SpOG., dari RS Bunda, Jakarta, ibu hamil dengan penyakitpenyakit seperti itu tidak berarti tidak boleh hamil. Kehamilan bisa tetap berjalan lancar dan bayi yang lahir pun sehat asalkan mereka dapat mengontrol penyakitnya dengan baik. Berikut kiat yang diberikan Puji:

HIPERTENSI

Hipertensi atau penyakit darah tinggi terjadi karena adanya pembuluh darah yang menegang sehingga membuat tekanan darah meningkat. Gejala yang umum dialami:

* Pusing dan sakit kepala.

* Kadang disertai dengan bengkak di daerah tungkai.

* Bila dilakukan pemeriksaan laboratorium, akan ditemui adanya protein yang tinggi dalam urinnya.

* Tekanan darah bisa mencapai 140/90 sementara batas normal untuk tekanan darah atas antara 100-120 dan tekanan bawah 70-85.

Perlu diketahui bahwa penderita hipertensi dapat dibagi menjadi dua. Pertama, penderita yang sudah mengidap hipertensi sebelum kehamilan terjadi. Kedua penderita hipertensi akibat kehamilan itu sendiri. Jadi mungkin saja sebelum kehamilan tekanan darah ibu normal, lalu disaat hamil mendadak tinggi. Kondisi inilah yang disebut dengan preeklamsia dan eklamsia. Preeklamsia biasanya terjadi pada kehamilan lebih dari 20 minggu dan harus segera ditangani agar tak meningkat menjadi eklamsia yang tak saja bahaya buat ibu tapi juga janin.

Preeklamsia yang masih ringan akan ditandai dengan tekanan darah yang meninggi, protein yang berlebihan dalam urin, pembengkakan, serta kenaikan berat badan yang cepat. Sedangkan yang parah ditandai dengan tekanan darah tinggi yang terus meningkat dan kadar protein yang lebih tinggi lagi dalam urin, sehingga menyebabkan berkurangnya jumlah urin. Selain itu, penglihatan pun menjadi kabur, perut terasa sakit atau panas, sakit kepala, serta denyut nadi yang cepat. Kecuali itu, bengkak karena preeklamsia tidak hanya terjadi di kaki, tapi akan terjadi pada wajah dan tangan. Nah, kalau terjadi pembengkakan di wajah atau tangan, segera periksakan diri untuk mengetahui apakah penyebabnya bersifat patologis atau fisiologis.

Risiko eklamsia ini sangat besar, ibu bisa mengalami kejang-kejang hingga tak terselamatkan. Tentunya jika ibu sampai tidak tertolong, janin pun bisa mengalami nasib yang sama. Kalaupun hidup, bisa terjadi kelahiran prematur, gagal ginjal, dan kerusakan hati. Selain itu, jika aliran darah ke janin berkurang, ia dapat mengalami keterlambatan pertumbuhan.

Pada saat eklamsia mengancam, biasanya dokter akan mengutamakan keselamatan ibu. Bayi akan dikeluarkan dengan proses induksi untuk menghasilkan persalinan normal. Jalan operasi dihindari karena dapat menimbulkan cacat rahim pada ibu.

Tentu saja hipertensi tak selalu berdampak buruk bagi kehamilan. Asalkan terkontrol, penyakit tekanan darah tinggi ini tak akan jadi masalah. Bahkan untuk kasus preeklamsia, pada umumnya setelah masa kehamilan, penyakit tersebut akan menghilang dengan sendirinya.

Penanganan:

O Rutin berkunjung ke dokter dan ceritakan kepada dokter mengenai riwayat kesehatan ibu yang memiliki tekanan darah tinggi. Dengan begitu dokter dapat melakukan pengawasan ketat selama masa kehamilan.

O Mengonsumsi obat-obatan yang berfungsi menurunkan tekanan darah. Jika dengan pengobatan, tekanan darah ibu tetap tinggi hingga mengancam keselamatan, maka janin harus dikeluarkan.

O Rajin mengontrol tekanan darah dengan cara mengukur tekanan darah setiap berkunjung ke dokter.

O Waspadai penambahan bobot selama kehamilan. Penambahan berat badan ibu hamil pengidap hipertensi sebaiknya tidak lebih dari 2 kg per bulan.

O Kurangi konsumsi makanan bergaram.

HIPOTENSI

Ada juga ibu yang mempunyai tekanan darah rendah, biasanya dengan ukuran tekanan darah 90/60. Hanya saja hal ini tidak sampai berakibat fatal. Gejala yang dialami umumnya sama dengan hipertensi yaitu pusing-pusing dan sakit kepala disertai tubuh lemas. Hipotensi biasanya terjadi karena ibu kurang tidur atau kurang istirahat dan kecapaian.

Penanganan:

* Cukup banyak istirahat dan cukup tidur.

* Makan makanan yang dapat menaikkan tensi darah seperti daging kambing selama porsinya tidak banyak.

* Diperbolehkan makan makanan yang bergaram atau asin.

DIABETES

Kehamilan dapat mempengaruhi timbulnya penyakit diabetes pada seseorang. Perlu diketahui, saat kehamilan terjadilah perubahan tingkat karbohidrat dalam tubuh ibu. Hal ini terjadi karena selama kehamilan dibutuhkan energi yang lebih dari biasanya bagi pertumbuhan janin. Hanya saja, intake atau asupan karbohidrat yang meningkat dapat membuat persediaan hormon insulin dalam tubuh tak mencukupi. Peran hormon ini adalah mengendalikan kadar gula dalam darah yang diubah dari karbohidrat tersebut. Akibatnya terjadilah penimbunan kadar gula yang tinggi dalam darah yang menyebabkan kenaikan kadar gula darah. Gejala dan keluhan diabetes yang paling khas dan harus diwaspadai adalah banyak makan, banyak kencing, dan banyak minum.

Diabetes bawaan maupun diabetes yang didapat semasa hamil bisa berakibat sama terhadap kehamilan, yaitu: hidramnion (cairan ketuban terlalu banyak), distosia (persalinan macet), dan hypoglicemia (penurunan kadar gula secara drastis) yang membuat ibu tak punya energi untuk mengedan. Kesulitan lainnya, saat persalinan bisa terjadi inersia urteri (rahim tak berkontraksi dengan baik) atau setelah plasentanya keluar terjadi atonia uteri (rahim tak bisa mengecil lagi).

Namun, selama kadar gula darah terkontrol baik maka kehamilan dengan diabetes bisa berjalan baik.

Penanganan:

* Lakukan konsultasi dengan dokter kandungan, dokter penyakit dalam, dan ahli gizi.

* Bila penyakit diabetes itu merupakan bawaan, lakukan pengobatan sebelum hamil. Minimal lakukan persiapan dengan mengatur kadar gula darah sebaik mungkin.

* Jika kemudian hamil, lakukan kontrol kadar gula darah sebelum usia kehamilan mencapai 8 minggu. Dengan demikian, kelainan dapat terdeteksi dan dicegah.

* Perhatikan peningkatan berat badan. Penambahan yang normal hingga kehamilan berusia 6 bulan adalah sekitar 1-1,5 kg per bulan. Setelah memasuki bulan ke-7 kenaikan bobot sebaiknya berkisar antara 0,5-1 kg per bulan. Waspadalah bila dalam sebulan kenaikan berat badan mencapai 4-5 kg. Untuk memastikan meningkatnya kadar gula atau tidak, perlu pemeriksaan laboratorium.

* Sebaiknya pemeriksaan laboratorium terhadap gula darah dilakukan secara rutin demi pencegahan hal-hal yang tak diinginkan.

* Bagi penderita diabetes ringan atau kadar gula darah sekitar 140, lakukan diet makanan dengan mengatur pemasukan karbohidrat, protein, dan lemak. Pemasukan karbohidrat kurang lebih 30-40 persen, protein 20-30 persen, dan lemak sekitar 15-20 persen. Konsultasikan hal ini dengan ahli gizi.

JANTUNG

Tak semua ibu yang memiliki riwayat penyakit jantung tidak boleh hamil, tergantung pada tingkat keparahannya. Penyakit jantung sendiri memiliki empat tingkatan. Pada tingkatan pertama, gejalanya masih tergolong ringan yakni penderita tidak mengalami sesak napas atau jantung berdebar. Jadi seakan-akan ia baik-baik saja. Tingkatan kedua adalah penyakit jantung golongan sedang, dimana penderita sehari-hari merasa sehat tapi begitu beraktivitas sedikit berat, seperti berlari, maka jantung terasa sesak, berdebar atau cepat lelah. Tingkat ketiga sudah termasuk penyakit jantung kategori berat; saat istirahat penderita merasa nyaman, tapi saat mengerjakan pekerjaan sehari-hari, kendati aktivitas itu ringan, ia akan mengalami sesak atau muncul gejala kelemahan jantung. Pada tingkat keempat atau sudah masuk kategori sangat berat, tanpa mengerjakan apa-apa pun penderita sudah menderita sesak.

Penderita penyakit jantung golongan tiga dan empat akan menghadapi risiko tinggi bila hamil. Lantaran itu, mereka disarankan untuk tidak hamil karena akan memperburuk kondisi kesehatannya. Kalaupun hamil perlu perawatan instensif di rumah sakit. Dengan risiko berikut:

* Ibu tidak dapat diselamatkan.

* Bayi lahir dengan berat rendah karena sirkulasi darah dan makanan dari ibu ke janin tidak lancar.

* Ancaman keguguran di trimester pertama.

Penanganan:

* Kehamilan pada ibu dengan gangguan jantung tingkat 3 atau 4 harus diakhiri sebelum usia kandungannya mencapai 20 minggu. Lewat dari masa itu, kehamilan bisa sangat membahayakan ibu, mau tak mau janin mesti dikeluarkan.

* Ibu yang memiliki penyakit jantung golongan ringan atau sedang biasanya masih diperbolehkan hamil dengan beberapa persyaratan:

– Berkonsultasi pada ahli kandungan dan ahli jantung (kardiolog). Tanyakan kepastian apakah kehamilan bisa dipertahankan atau tidak. Bila bisa dipertahankan bagaimana proses persalinannya nanti; melahirkan normal atau dengan bantuan alat semisal vakum.

– Tidak banyak melakukan aktivitas dan banyak beristirahat. Namun, bukan berarti ibu hamil pengidap penyakit jantung harus berdiam seharian di tempat tidur. Boleh-boleh saja melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk bekerja, asalkan sesuai dengan ketentuan beban jantungnya. Siang hari lakukan istirahat 1-2 jam sementara tidur lebih dini di malam hari.

– Mengindari stres emosional.

– Minum obat-obatan yang dianjurkan dokter.

– Bila kehamilan sudah memasuki 37 minggu sebaiknya ibu beristirahat di rumah sakit. Tujuannya agar bisa dijaga secara ketat oleh dokter dan mendapat pengawasan ekstra.

ASMA

Ibu pengidap asma tak perlu ragu merencanakan kehamilan karena tak setiap kondisi kehamilan akan diperparah dengan adanya penyakit mengi ini. Yang penting asma tidak kambuh. Gangguan saluran pernapasan akibat asma bisa dicegah dengan cara menghindari pencetusnya. Biasanya ibu penderita asma sudah tahu apa yang yang dapat memicu asmanya.

Jika ibu sering mengalami sesak napas, maka pemasukan oksigen ke paru-paru jadi terganggu. Hal ini bisa berpengaruh pula pada jumlah oksigen yang diperoleh janin. Kemungkinan yang terjadi, janin mengalami kekurangan oksigen yang dapat mengakibatkan hambatan pada proses tumbuh kembangnya. Gangguan akan terlihat dari berat lahirnya yang rendah atau tubuhnya yang kecil sehingga organ-organnya pun tak berkembang sempurna.

Penanganan:

* Ibu hamil hendaknya selalu menjaga diri agar asmanya tidak kambuh atau tidak sampai terjadi serangan. Hindari pencetus asma seperti, udara dingin, debu, boneka berbulu, serbuk bunga, asap obat nyamuk, dan lainnya.

* Melakukan kontrol ke dokter, sama halnya seperti pengidap diabetes. Selama kehamilan ibu pengidap asma sebaiknya berkonsultasi pula dengan dokter penyakit dalam atau spesialis paru untuk menjaga kondisinya agar jangan sampai terkena serangan.

* Minum obat-obatan yang diberikan dokter. Umumnya obat-obatan asma aman untuk kehamilan.  

* Lakukan latihan pernapasan bila kehamilan sudah semakin besar untuk mengurangi rasa sesak yang ditimbulkan. Perhatikan pula posisi-posisi tubuh yang nyaman untuk dapat bernapas lega seperti tidur dengan letak bantal yang agak lebih tinggi atau tidak tidur telentang misalnya. Selama tak ada serangan dan panggul cukup lebar, ibu bisa bersalin normal.

Hepatitis B

Hepatitis adalah peradangan hati yang disebabkan virus, dengan gejala berupa ikterik (selaput mata berwarna kuning), air seni berwarna seperti air teh, malaise (cepat lelah), mengalami demam dan badan terasa tak enak.

Sejauh ini belum ditemukan adanya cacat bawaan pada bayi dari ibu pengidap hepatitis B. Walau kemungkinan risiko janin tertular virus hepatitis tetap ada yakni melalui darah ibu yang mengandung virus hepatitis yang mengalir ke tubuh janin.

Penanganan:

* Melakukan kontrol ke dokter kandungan dan dokter ahli penyakit dalam.

* Melakukan pemeriksaan kadar HbsAg (antigen hepatitis B) di usia kehamilan 4 bulan ke atas untuk memonitor jumlah virus dalam darah. Peningkatan jumlah virus memperbesar risiko penularan pada janin.

* Mengonsumsi obat-obatan untuk mengatasi hepatitis B yang diberikan dokter.

– Mendapat penanganan medis untuk mencegah perdarahan pascapersalinan. Menurut penelitian, ibu dengan hepatitis biasanya mengalami perdarahan yang lebih banyak setelah persalinan.

* Bayi yang lahir dari ibu pengidap hepatitis B, begitu lahir harus langsung mendapat vaksinasi hepatitis.

Dedeh Kurniasih

~ oleh rizkiyana pada Juni 29, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: